kelompok ke 5 SPJD
PGRI ERA REFORMASI
1. Guru Era Reformasi Ditandai Dengan
Runtuhnya Rezim Orde Baru
Era reformasi ditandai dengan runtuhnya sebuah rezim orde
baru yang otoriter. Setelah orde baru tumbang maka perubahan menjadi pilihan
pembangunan bangsa. Era perubahan itulah yang dikenal era reformasi. Perjuangan
PGRI pada masa reformasi ini meliputi bidang keorganisasian, kesejehteraan,
ketenagakerjaan, perundang-undangan, reformasi pendidikan nasional serta
kemitraan nasional dan interbasional. Dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan
pendidikan nasional, PB, PGRI ikut berperan serta secara aktif dengan
memberikan masukan pada pemerintah agar berbagai agenda reformasi yang sedang
dan akan dilaksanakan dapat terwujud dengan tepat sasaran.
Pada era reformasi, di tubuh PGRI juga mengalami perubahan
yakni dengan melakukan penyesuaian AD/ ART organisasi dan sesuai dengan
tantangan dan tuntutan reformasi yang ditandai dengan kongres ke XVIII pada
tanggal 25-28 Nopember 1998 di Lembang bandung. Selain dari pada itu PGRI juga
mengalami perubahan sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dan mewujudkan
dirinya sebagai the learnig organization (organisasi pembelajar).
2. PGRI dan Guru Masa Kini
Membangun sekolah yang berkinerja tinggi merupakan tantang
nyata yang
harus dihadapi oleh semua warga sekolah. Kepala sekolah, guru, tenaga
kependidikan, tenaga administrasi, komite sekolah, termasuk siswa
dituntut bahu
membahu menjawab tantangan tersebut.
Menterjemahkan sekolah yang berkinerja tinggi selalu akan bersinggungan dengan
terjemahan sekolah efektif. Scheerens (1992) memandang sekolah efektif
dalam dua sisi, yaitu dari sisi sudut pandang ekonomi
dan teori organisasi. Sekolah yang efektif adalah sekolah
yang mampu menampilkan (perform) semua indikator dua perspektif Sheerens di atas.
Sekolah berkinerja
tinggi adalah sekolah yang mampu menghasilkan keluaran berupa:
a. Proses pembelajaran yang efektif
b. Siswa dan guru yang berprestasi tinggi baik akademik maupun non
akademik
c. Tingkat kehadiran warga sekolah tinggi
d. Pelayanan akademik dan administratif yang optimal pada semua warga
sekolah
e. Iklim dan budaya sekolah yang positif dan
dinamis
f. Etos kerja warga sekolah yang tinggi
g. learning organization
h. Hubungan antar pribadi yang harmonis
i. Tata kelola sekolah yang baik
Untuk mewujudkan sekolah yang berkinerja tinggi, diperlukan suatu
sistem peningkatan sekolah (school improvement) yang berkelanjutan.
Upaya peningkatan proses
yang terjadi disekolah memerlukan strategi
yang efektif. Setidaknya ada 4 (empat) strategi yang bisa
diadaptasikan sekolah dalam rangka peningkatan proses. Strategi ini disarikan
dari paparan Surya Dharma (2012), yaitu:
a. Manajemen kurikulum :
Strategi manajemen kurikulum dimaksudkan
bahwa pembelajaran yang dilakukan mengacu pada standar kurikulum
yang ada.
b. Praktik pembelajaran :
Strategi pembelajaran yang dilakukan adalah
dengan cara menciptakan lingkungan kelas yang mendukung dan
memperhatikan perbedaan antar individu dan ditujukan bagi semua siswa.
c. Sekolah efektif :
Sekolah efektif merupakan strategi yang bisa diadaptasi
sekolah dalam rangka peningkatan lembaga. Dimana sekolah efektif
memiliki karakter
budaya kerja sama dan kepercayaan warga sekolah
semata-mata ditujukan untuk keberhasilan siswa.
d. Dukungan orang tua dan masyarakat
: Lingkungan sekolah dijadikan
sebagai mitra stregis peningkatan sekolah yang kedudukannya sejajar.
Sekolah harus melakukan kerja sama pro-aktif dan atas dasar prinsip
saling menguntungkan.
3. Permasalahan Guru
Saat ini, setidaknya ada 7 (tujuh) masalah pokok yang dihadapi guru di
Indonesia, yaitu :
a. Permasalahan distribusi guru
(kesenjangan antara sebaran guru di daerah perkotaan dengan di daerah perdesaan).
b. Ketidaksesuaian
(missmatch) bidang keilmuan dengan bidang kerja.
c. Kualifikasi pendidikan
(Standar tenaga pendidik yang telah ditetapkan pemerintah masih
belum bisa dicapai sepenuhnya).
d. Kompetensi dan karir guru.
e. Sertifikasi
(Belum semua guru di Indonesia memiliki sertifikat guru).
f. Peningkatan keprofesian berkelanjutan (PKB)
(Upaya pengembangan diri guru yang masih belum optimal).
g. Rekrutmen guru (Rendahnya
kualitas calon guru dan sistem rekrutmen yang tidak efektif dan bermutu rendah
).
4. Kebijakan Guru Saat Ini
Terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh guru, ada
beberapa kebijakan pemerintah yang saat ini dijalankan, yaitu :
a. Pertama, terkait dengan
perencanaan kebutuhan guru, ada dua mekanisme yang diambil pemerintah, yaitu
melalui pengangkatan guru baru, mekanisme biasa yang sudah berjalan selama
ini. Cara yang kedua adalah dengan melakukan redistribusi guru dengan beban
mengajar 24 jam/minggu.
b. Kedua, terkait dengan rekrutmen. Proses rekrutmen.
Kedepan, seseorang calon guru bisa berasal dari jenis perguruan tinggi apa saja.
c. Ketiga, terkait dengan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Calon guru yang
memiliki sertifikat pendidikan dan mengikuti tes penerimaan guru,
setelah diterima status mereka adalah guru tanpa jabatan fungsional.
5. Guru di Abad 21: Apa dan Bagaimana?
Di abad 21 ini, tantang pendidikan secara umum, sekolah, dan guru
semakin berat. Tipikal/karakteristik anak-anak dan lingkungan sekolah semakin
cepat berubah. Setidaknya ada 3 aspek yang sangat mempengaruhi dunia
pendidikan saat ini.
a. Pertama adalah globalisasi. Globalisasi telah benar-benar merubah wajah
pendidikan dalam berbagai aspek. Mulai dari kurikulum, sarana pra sarana,
ketenagaan, kesiswaan, bahkan pengelolaan
b. Kedua, teknologi dan inovasi. Tak
dipungkiri, globalisasi ditandai dengan merambahnya teknologi kedalam semua
aspek pendidikan di sekolah, baik aspek pembelajaran, pengelolaan, dan layanan
pendukung lainnya.
c. Ketiga, bagaimana cara siswa belajar. Di abad 21, siswa dituntut untuk pro aktif
mencari informasi sendiri yang sumbernya sangat banyak tersedia di lingkungan
dia.
Untuk bisa tetap bertahan dan mampu
meningkatkan kualitas pendidikan
dan pembelajaran di era yang sedemikian berubah, seorang guru perlu
menyiapkan dirinya dengan baik. Kesiapan mental, intelektual, keterampilan, dan
tentunya juga fisik. Motivasi mengajar dan mendidik yang tinggi juga merupakan
variabel penting dalam suksesnya pembelajaran. Ia dituntut menjadi guru yang
efektif, yaitu guru yang memiliki ciri:
a. Menjadi manajer kelas yang sangat baik.
b. Memahami bagaimana cara mengajar yang baik.
c. Memiliki harapan yang tinggi terhadap
keberhasilan siswa.
Jika selama ini kita tahu bahwa karakter guru
profesional adalah guru yang memiliki 4 kompetensi secara utuh (pedagogik,
kepribadian, sosial, dan profesional). Teacher Development Planning Team (2004) menggambarkan sosok guru profesional anmajsbdjabnskdalah guru yang memiliki
kompetensi:
a. Kompetensi utama, yaitu
pedagogik, kepemimpinan, kepribadian, dan pengetahuan.
b. Kompetensi dasar, yaitu kemampuan komunikasi, kemampuan
kolaborasi, kemamuan teknologi, dan kemampuan evaluasi.
Selain menjadi sosok profesional, Stansbury (2011) mengidentifikasi 4
ciri guru yang efektif di abad 21, yaitu:
a. Guru yang mampu mengantisipasi masa depan.
b. Pembelajar seumur hidup (Lifelong
learner).
c. Mampu mengajar semua karakter siswa.
d. Mampu membedakan teknologi yang mendukung
dengan yang tidak.
Era reformasi merupakan suatu kurun waktu yang ditandai
dengan berbagai perubahan untuk membentuk suatu keseluruhan tatanan baru yang
lebih baik. Sedangkan pada saat ini,
tuntutan profesionalisme bagi guru-guru di abad 21 menjadi satu hal
yang sangat mutlak dibutuhkan. Guru harus peka
terhadap perkembangan media, informasi dan segala berita yang terjadi pada
dunia pendidikan. Hal ini untuk memudahkan seorang guru menjagi guru yang ideal
dan terdepan dalam mengatasi masalah-masalah guru dan pendidikan. PGRI sebagai
salah satu organisasi profesi yang mewadahi kegiatan guru, tentunya harus
memikirkan segala masalah dalam dunia pendidikan seperti yang dijelaskan
diatas. Harus diakui itu juga merupakan tantangan masa depan bagi PGRI.

Komentar
Posting Komentar